Sistem Informasi Desa Pandak Sumpiuh
SEJARAH DESA
Perpindahan penduduk baik secara
perorangan maupun berkelompok adalah sesuatu yang wajar dan sudah
terjadi sejak zaman dahulu sampai sekarang dan mungkin pada masa-masa yang akan
datang. Alasan perpindahan penduduk pun bermacam-macam diantaranya : tuntuntan
ekonomi, bencana alam, juga bisa karena politik seperti adanya perpindahan
penduduk dari wilayah Kebumen kearah barat sehingga sekarang menjadi penduduk
diberbagai tempat, yang salah satunya adalah asal muasal terjadinya desa
Pandak. Kisah perpindahan penduduk kearah barat, menurut cerita turun temurun
dari orang tua keanak cucu tidak dapat dipugkiri kebenarannya, namun sayang
sekali tidak ada petunjuk waktu kapan peristiwa itu terjadi sehingga kisah ini
seperti dongeng belaka. Namun demikian petunjuk tentang masih adanya
kekerabatan hubungan keluarga, logat berbahasa masih ada petunjuk kesamaannya,
sehingga menguatkan fakta peristiwa yang berhubungan dengan Desa Pandak.
Pada abad ke-19 berawal dari
pesantren Somalangu yang memiliki banyak santri yang berasal dari berbagai
daerah dari Kebumen dan Kyai’nya dianggap sebagai orang yang sakti ,karena
kepintarannya Kyai dianggap sebagai seorang pemimpin mereka ibaratnya kepala
negara atau raja, disitulah awal mula terjadinya mala petaka. Hal tersebut
didengar oleh mata-mata Mataram dan melaporkan bahwa Somalangu ingin memisahkan
diri dari Mataram. Akhirnya Mataram mengirimkan pasukan kesana secara
diam-diam. Orang-orang Pasir Luhur mengepung sekitar pegunungan disana untuk
mengantisipasi terjadinya pemberontakan. Karena Kebumen tahu bahwa mereka sudah
dikepung oleh pasukan Mataram yang dipimpin oleh Raden Mas Arumbinang.
Kemudian orang-orang pesantren Somalangu geger sehingga menyepakati untuk
kabur bersama dengan keluarganya. Mereka melakukan perjalanan melalui Klirong,
Argomulyo, Puring, Kewarasan, Buayan, Desa Tugu, Pring Tutul, dan sampai di
Nusadadi bagian timur yang disebut Kalisetra. Orang tua dan orang yang sakit
berhenti disana karena tidak dapat melanjutkan perjalanan dan akhirnya menetap
disana. Kemudian orang-orang yang masih bisa melanjutkan perjalanan terus
berjalan dan sampai di Mbedahan dan yang tidak sanggup melakukan perjalanan
akhirnya menetap disana. Yang lainnya berjalan dan menemukan tempat dimana
terdapat “kumpulan pohon dadap yang dikelilingi oleh rawa”. Sehingga tempat
tersebut dinamakan RAWADADAP yang sekarang dinamakan wilayah RW I. Karena
tempat tersebut dianggap aman jadi mereka menempati tempat tersebut. Kita bisa
buktikan bahwa mereka masih satu keturunan diantaranya dengan logat bahasa yang
sama antara kebumen selatan, kalisetra, mbedahan dan Rawadadap .
Rombongan yang berasal dari Kebumen
utara diantaranya desa Panjer, Kembaran, Tanah sari, Gambang sari melarikan
diri dari Kebumen melalui jalan utara. Mereka melanjutkan perjalanan dan
melihat sebuah tempat yang sempit, rata, dan nyaman dan mereka mengatakan dalam
bahasa Jawa “PAPAN NGADHAK” dan dipilihlah tempat tersebut sebagai tempat
tinggal mereka dan diberi nama PANDAK yang sekarang dinamakan RW II.
Karena itu sampai sekarang masih ada
sekelompok masyarakat di RW. I yang menggunakan dialek ketimuran (dialek
Yogyakarta atau Surakarta) yang bercampur dengan dialek Banyumas.
Desa Pandak merupakan desa Tiban
yaitu desa yang muncul secara alami bukan merupakan hadiah atau perdikan dari
penguasa waktu itu. Sebagai kepala pemerintahan di desa disebut
Penatus yang merupakan pilihan warga setempat dan mendapat persetujuan
Adipati. Yang pertama sebagai Penatus adalah Abdul Aziz. Penatus
mengangkat pembantu-pembantunya sendiri dengan nama atau jabatan sesuai
pekerjaannya misanya Jaga Tirta, Jaga Baya, Tukang Uang, Juru Tulis, dan
lain-lain.
Pemerintahan
Desa Pandak sejak dulu sampai saat ini telah beberapa kali dipimpin oleh kepala
Pemerintahan Desa. Beberapa kepala pemerintahan Desa Pandak antara lain
adalah sebagai berikut :
|
Periode tahun 1919 – 1945 |
: |
ABDUL AZIZ |
|
Periode tahun 1945 – 1990 |
: |
H.SIROD |
|
Periode tahun 1990 – 1998 |
: |
NGADIRAN DJUNAEDI |
|
Periode tahun 1998 – 1999 |
: |
Selama 8 bulan tidak ada kepala desa dan
sebagai Penjabat Kepala Desa adalah SURATNO |
|
Periode tahun 1999 – 2007 |
: |
SUGIHONO |
|
Periode tahun 2007 – 2013 |
: |
MUCHIBBIN, A.Ma. Masa jabatan kepala desa hanya 5
tahun 6 bulan dan berhenti karena meninggal dunia |
|
Periode tahun 2013 – 2013 |
: |
Selama 6 bulan tidak ada kepala desa dan
sebagai Penjabat Kepala Desa adalah BADRUS ASMUNI, S.Sos. (Sekretaris Desa) |
|
Periode tahun 2013 – 2019 Periode tahun 2019 – 2027 |
: : |
SUGIHONO ABBAS WAHYUDI |